“Ke Gontor apa yang kau cari?” Kalimat ini adalah hal pertama yang ditanyakan Gontor kepada calon santrinya. Terdengar sederhana, namun memiliki esensi lebih. Masing-masing orang memiliki jawaban berbeda tergantung bagaimana memaknainya.

Begitupun saya ketika mendaftar di Gontor juga memiliki banyak hal yang ingin saya dapatkan terlepas dari apa yang dibutuhkan. Saya Binti Sholihatin, mahasiswi program studi Farmasi Universitas Darussalam Gontor. Apa yang saya inginkan tidak satupun berkaitan dengan program studi yang saya tempuh. Hal tersebut tidaklah istimewa, keinginan sederhana namun hanya bisa didapatkan di Gontor.

Tahun pertama berlalu, …..

……saya menyadari bahwa saya tidak mendapat apa yang diinginkan. Tentu saja kecewa, ekspektasi memang berbeda dengan realita. Alhamdulillah teringat nasehat Al-Ustadz KH Abdurrahman Hasan sewaktu menempuh studi Madrasah Aliyah di Asy-Syifa, kalau satu tahun tidak betah dicoba satu tahun lagi, sudah dua tahun masih tidak betah dicoba satu tahun lagi, tiga tahun berlalu masih ingin pindah dicoba satu tahun lagi, begitu seterusnya. Maka saya menantang diri untuk mencoba satu tahun lagi, siapa tau Allah memberikan petunjuk.

Tahun kedua saya menyusun target studi, …..

…….sadar bahwa saya harus menyibukkan diri untuk mengesampingkan rasa tidak betah. Ternyata tahun kedua saya bisa lebih aktif dan produktif. Hal tersebut bukan tanpa alasan, bahkan perselisihan dengan teman pun menjadi salah satu factor untuk melakukan kesibukan. Sebenarnya bukan hal baru menghadapi permasalahan tersebut, karena di Asy-Syifa pun saya sudah pernah mengalaminya dan Alhamdulillah mendapat bimbingan dari Ustadzah staff pengasuhan pondok.

Satu patah kata bahkan menjadi sangat berguna jika dapat mengaplikasikan dengan tepat. Pengalaman sebagai ketua OPPM di Asy-Syifa saya jadikan acuan untuk memimpin sebuah organisasi di UNIDA Gontor. Bukan hal mudah untuk berbicara di depan publik tanpa latihan atau pengalaman, karena memimpin itu ada seninya dan seni tersebut saya peroleh di Asy-Syifa.

Meskipun masih banyak yang perlu diperbaiki, terus mencoba dan melakukan kesalahan tetap lebih baik daripada diam. Prinsip tersebut mengantarkan saya terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mapres) UNIDA Gontor tahun akademik 2019. Proses seleksi Mapres pun juga tidak terlepas dari bekal yang saya dapat di Asy-Syifa. Beberapa kali mengikuti kompetesi akademik maupun non-akademik di Asy-Syifa menjadikan saya lebih menguasai situasi dan memahami karakter pesaing.

Hal terpenting dalam sebuah kompetisi adalah mengalahkan saingan kita. Tapi jangan sampai salah dalam menentukan pesaing, karena pesaing kita bukanlah peserta lain melainkan kompetisi itu sendiri. Jika sedang mengikuti olimpiade matematika maka pesaingnya adalah soal-soal matematika. Jadi seberapa banyak kita dapat menekan pesaing, sebesar itulah hasil yang diperoleh.

Apa yang dikerjakan saat ini mungkin terasa biasa saja bahkan bisa jadi kita tidak menyukainya. Namun hal tersebut menentukan kehidupan kita 5 atau 10 tahun di masa mendatang. Asy-Syifa mengajarkan saya begitu banyak hal dan memberikan acuan untuk menghadapi berbagai masalah perkuliahan maupun kehidupan Universitas yang tentunya lebih kompleks. Seribu kali gagal bukan hal yang buruk jika dapat bangkit dan melanjutkan pergerakan.

Terus melakukan perbaikan adalah satu-satunya pilihan untuk meraih kesuksesan. Pada akhirnya saya menyadari bahwa Allah tidak memberi yang saya inginkan melainkan yang saya butuhkan.

Bagi saya UNIDA Gontor adalah ladang siap panen yang memberikan hak kepada santrinya untuk bebas memanen. Demikian pula Asy-Syifa, hasil panen yang diperoleh disana saya gunakan sebagai bekal di UNIDA Gontor.

Saya yakin bahwa setiap hal positif yang dilakukan akan memberikan manfaat entah kita sadari atau tidak.

Categories: LENTERA

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *